Sebatang Lidi dan Sebidang Tanah

Tiada seorang sahabat yang menemani masa kecilku, selain Ibu yang selalu mendampingiku setiap waktu setiap saat. Bapakku hanya seorang tukang becak yang harus ke kota untuk mencari nafkah demi memenuhi kebutuhan hidupku dan Ibu di desa yang sangat sunyi, beliau mempertaruhkan hidup dan matinya demi mempertahankan serta memenuhi kebutuhan hidup kami di desa. Itu semua tidak terlepas dari rasa cinta dan kasih sayang serta keharmonisan di antara kami yang sangat kuat. Kami sangat bahagia meskipun kebutuhan apa adanya. Disamping kesibukan Ibu sebagai Ibu rumahtangga, beliau juga sangat tidak melewatkan waktu luang terbuang sia-sia, bagi beliau waktu merupakan “kesempatan yang sangat berharga”. Oleh karena itu, hampir setiap pagi dan sore beliau selalu menyuguhkan aku “sebatang lidi” disaatku bermain seorang diri di halaman depan rumah, dengan sebatang lidi itulah aku memperoleh pendidikan pertama dalam hidupku, pendidikan  pertama itu sangat memiliki kesan yang sangat berarti dalam hidupku hingga saat ini. Meskipun dengan media yang sangat apa adanya (Lidi=Pulpen, tanah=buku), namun tidak menyurutkan semangat Ibu dalam mengajariku ilmu pengetahuan yang sangat penting dalam kehidupan, Aku sangat bahagia dengan kondisiku yang demikian karena dengan semangat yang gigih sang ibu yang setia mendampingiku belajar tidak pernah putus asa dalam membimbingku. Pelajaran pertama yang aku terima dari ibu adalah mengenal huruf alfabet, meskipun beliau hanya tamatan madrasah di tengah kampung yang jauh dari keramaian, tapi beliau sangat tidak menginginkan hal tersebut dirasakan oleh anak-anaknya, termasuk aku. Sehingga hampir setiap sore aku selalu dibimbingnya, setelah ibu menilai bahwa aku sudah mampu mengenal huruf demi huruf dalam alfabet kemudian ibu mulai mengajarkan aku bagaimana menulis huruf-huruf tersebut dengan benar. Satu persatu ibu dengan sabar memegang tanganku untuk menggoreskan sebatang lidi pada sebidang tanah yang saat itu aku anggap sebagai buku pertama yang aku miliki sambil beliau ulang-ulang kembali dengan menyebutkan huruf yang sudah aku pahami sebelumnya. Sungguh luar biasa cara ibu memperkenalkan dan mengajarkan aku mengenal jenis huruf serta menulis huruf tersebut dengan baik dan benar. Pendidikan yang ibu berikan padaku adalah merupakan pendidikan yang berorientasi pada pendidikan bermain sambil belajar. Sunggguh luar biasa sosok ibu sekaligus guru pertama dalam kehidupanku. Pengalaman yang tidak akan pernah ku lupakan dalam sejarah perjalanan hidup di masa kecilku, aku sangat merindukan kenangan manis di masa lalu.

Perjalanan hidupku di masa kecil tidak terlepas dari kebersamaan dalam kehangatan keluarga, meskipun Bapak jarang di rumah tapi sosok Ibu sangat setia dalam menemani anaknya yang lugu dan polos.

One thought on “Sebatang Lidi dan Sebidang Tanah

  1. berbiacara masalah keluarga memang menjadi sebuah keindahan yang tidak bisa di ungkapkan disini. karena keluarga adalah tempat kebahagiaan, kesedihan dan mudah dalam memahami sesuatu perkara.
    moga keluarga kita dijadikan keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah.AMIIIN……
    AL-FATIHAH……….!

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s