Abortus / Aborsi

Oleh:

Supriyatna As-Syianjury

Pada dasarnya manusia dilahirkan dalam keadaan suci, salah satu yang dapat menyucikan suatu kelahiran seorang anak adalah dengan pernikahan yang sah menurut agama dan diakui oleh negara. Kendati demikian, di masa dan eraglobalisasi ini banyak orang yang tidak memperhatikan hal yang demikian, mereka lebih mementingkan dan terlarut dalam keindahan dan kenikmatan dunia yang semakin hari semakin merusak kehidupan terutama di kalangan pemuda.

Banyak kasus yang terjadi karena hawa nafsu yang sangat sulit terkendali, sehingga harus ditutupi dengan ketidakjujuran dalam kehidupan. Bahkan, demi menutupi nama baik seseorang ia harus menghilangkan nyawa yang memiliki hak untuk hidup. Realita yang terjadi banyak pemuda-pemudi yang terlarut dengan buaian cinta sehingga tidak memperhatikan batasan-batasan dalam menjaga nama baik orangtua, keluarga, dan dirinya sendiri. Sehingga tidak dapat dipungkiri banyak terjadi kehamilan yang tidak dikehendaki yang merupakan suatu kondisi dimana pasangan tidak menghendaki adanya proses kelahiran akibat dari kehamilan yang terjadi di luar ikatan pernikahan yang sah.

  1. Pengertian

Kata Abortus dalam Bahasa Inggris disebut Aboration dari bahasa Latin yang berarti “gugur kandungan atau keguguran”. Dalam Bahasa Arab Abortus disebut isqotul hamli yang berarti menggugurkan kandunga.[1] Secara istilah Abortus adalah keluarnya janin dari rahim sebelum janin tersebut mampu hidup mandiri atau tidak mampu hidup di luar kandungan.

  1. Macam-macam Abortus

Dari kedua pengertian tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa Abortus ada yang bersifat alamiah/spontan dan yang bersifat disengaja.

a.   Aborsi yang bersifat alamiah/spontan:

Aborsi yang demikian merupakan aborsi yang terjadi di luar kehendak dan kemampuan manusia yang sebelum usia kehamilan 22 minggu secara alami tanpa adanya upaya-upaya dari luar atau buatan untuk mengakhiri kehamilan.

Penyebabnya:

–          kecelakaan

–          pendarahan

–          dsb

  1. Aborsi yang bersifat disengaja.

Aborsi yang bersifat disengaja ini adalah bentuk aborsi yang memang benar-benar terdapat kesengajaan dalam pengguguran tersebut.

Aborsi yang disengaja ada dua macam, di antaranya;

  • Abortus Artificialis therapicus, adalah aborsi yang dilakukan oleh dokter atas dasar indikasi medis.
  • Abortus Provocatus Criminalis, adalah aborsi yang dilakukakn tanpa dasar indikasi medis
  1. Dampak Abortus

Abortus tidak terlepas dari resiko atau bahaya besar maupun kecil, diantaranya;

  1. Timbul luka dan infeksi pada dinding kelamin dan merusak organ yang berada di sekitarnya.
  2. Robeknya mulut rahim bagian dalam.
  3. Dinding rahim bisa tembus akibat alat yang dimasukan ke dalam rahim tersebut.
  4. Terjadinya pendarahan.
  1. Motivasi Melakukan Aborsi

Ada beberapa motivasi dalam melakukan aborsi yang disengaja, di antaranya;

  1. Adanya kekhawatiran akan kemiskinan, padahal Allah swt telah menegaskan dalan firman-Nya yang mengatakan;

Ÿwur (#þqè=çGø)s? öNä.y‰»s9÷rr& spu‹ô±yz 9,»n=øBÎ) ( ß`øtªU öNßgè%ã—ötR ö/ä.$­ƒÎ)ur 4 ¨bÎ) öNßgn=÷Fs% tb%Ÿ2 $\«ôÜÅz #ZŽÎ6x. ÇÌÊÈ

Artinya: Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu Karena takut kemiskinan. kamilah yang akan memberi rezki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar. (Q.S. al-Isra: 31)

  1. Untuk mempertahankan karier dan memelihara kecantikan
  2. Khawatir anak yang dilahirkan cacat
  3. Beban moral yang ditanggungnya karena anak yang dikandung tersebut merupakan anak hasil hubungan di luar ikatan pernikahan
  1. Cara Melakukan Aborsi

Ketika salah satu atau lebih motivasi tersbut ada pada seseorang, maka abortus dilakukan dengan sengaja dengan menggunakan berbagai macam cara yang dapat dikelompokan menjadi beberapa cara, di antaranya;

  1. Cara tradisional, yaitu menggugurkan kandungan dengan bantuan para dukun atau dengan berusaha menggugurkan kandungannya sendiri dengan caranya sendiri.
  2. Pengguguran yang dilakukan dengan cara medis di rumah sakit, pada umumnya pengguguran tersebut dapat dilakukana dengan cara;

–          Curattage dan dilatage (C&G)

–          Dengan alat khusus untuk mengkiret janin

–          Aspirasi, penyedotan isi rahim dengan pompa kecil

–          Hysterotomi

Di samping empat cara medis tersebut, dapat juga dilakukan dengan menggunakan obat-obatan yang ditelan atau diletakan di vagina.[2] Meskipun cara yang digunakan untuk melakukan aborsi sekarang ini sudah ditemukan dengan teknologi canggih, akan tetapi tetap saja dampak negatif bagi pelakunya tidak terhindarkan.

  1. Hukum melakukan Abortus

Menurut hukum yang berlaku di Indonesia, aborsi atau pengguguran termasuk tindak kejahatan yang dikenal dengan istilah Abortus Provocatus Criminalis. Dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) Indonesia, Negara melarang abortus dan hukumnya cukup berat, bahkan hukumannya tersebut tidak hanya ditujukan kepada wanita yang bersangkutan, tetapi semua orang yang terlibat dalam kejahatan itu dapat dituntut.[3] Di antaranya;

  1. Seorang wanita yang melakukan aborsi
  2. Dokter atau bidan atau dukun yang membantu melakukan aborsi
  3. Orang-orang yang mendukung terlaksananya aborsi

Indonesia melarang tindakan aborsi, kecuali untuk menyelamatkan jiwa ibu dan janin. (UU Kesehatan No. 23 tahun 1992). Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) pasal 283, 299, 346-349 melarang keras dilakukannya aborsi dengan alasan apapun. Bahkan pasal 299 mengancam hukuman pidana penjara maksimal empat tahun kepada seseorang yang telah memberikan harapan kepada seorang perempuan bahwa kandunganya dapat digugurkan.[4]

Menurut pandangan islam, apabila abortus dilakukan setelah janin bernyawa atau berumur empat bulan, maka telah ada kesepakatan ‘Ulama tentang keharaman aborsi karena dipandang sebagai pembunuhan terhadap manusia. Akan tetapi, apabila aborsi tersebut dilakukan sebelum diberi ruh atau nyawa pada janin tersebut, yaitu sebelum berumur empat bulan, maka ada beberapa pendapat di antaranya;

  1. Boleh
  2. Makruh
  3. Haram

Akan tetapi, jika pengguguran itu dilakukan karena benar-benar terpaksa demi melindungi atau menyelamatkan Si Ibu, maka islam membolehkan, bahkan mengharuskan, karena islam memiliki prinsip “menempuh salah satu tindakan yang lebih ringan dari dua hal yang berbahaya itu adalah wajib”. [5] Jadi, keselamatan seorang ibu lebih penting daripada nyawa janinnya; dengan dasar pertimbangan[6]:

  1. Kehidupan ibu di dunia sudah nyata, sedangkan kehidupan janinnya belum tentu, karena itu si ibu lebih berhak hidup dibandingkan janinnya.
  2. Mengorbankan ibu lebih besar resikonya daripada mengorbankan janinnya. Karena kalau ibu yang meninggal maka semua anak yang ditinggalkannya mengalami penderitaan, terutama bayi yang baru dilahirkannya itu.

Sumber:

1. M. Ali Hasan, Masail Fiqhiyah al-Haditsah Pada masalah-masalah Kontemporer Hukum Islam, Jakarta: PT. Radja Grafindo Persada, 1996.  Hlm. 44. cet. 1

2. Drs. Safiudin Shidik, MA, Hukum Islam tentang Berbagai Persoalan Kontemporer, Jakarta: PT. Intimedia Cipta Nusantara. Cet. 1.2004. hlm. 65.

3. Ibid, hlm. 51.

4. Sururin, M. Ag, et-all, Pendidikan Kesehatan Reproduksi Bagi Calon Pengantin, Jakarta: PP Fatayat NU. Cet.1. 2007. hlm. 99

5. Prof. Drs. H. Masjfuk Zuhdi, Masail Fiqhiyah, Jakarta: CV. Mas Agung. 1991. Cet II. Hlm. 81.

6. Drs. H. Mahjuddin, M.Pd.I, Masailul Fiqhiyah Berbagai Kasus yang dihadapi “hukum islam” Masa Kini, Jakarta: Kalam Mulia, 2003. cet. 7. hlm 86.


Iklan

One thought on “Abortus / Aborsi

  1. Pinter bangeeeeeeeeeeeeeeet,,,, pernah kuliah yach,,,,, boleh dong tahu dosen yang membimbing pada pembahasan abortus,,,,,
    moga kita menjadi FUQOHA yach……..AMIIIN…
    AL-FATIHAH.!

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s