Ayahanda KH. Muhammad Suhaidi, SQ. Siapakah Beliau?

Beliau laksana matahari yang senantiasa memberi kehangatan di pagi hari dan terus bersinar tanpa ada kata berhenti sepanjang hari.
Beliau laksana bulan yang bersinar di tengah malam yang mampu memberi kebahagiaan setiap hati yang sedang dirandu kegelisahan.
Beliau laksana setitik cahaya yang senantiasa memberikan petunjuk jalan dalam kegelapan hati dan pikiran.
Beliau laksana air yang mampu menghilangkan dahaga di tengah panasnya diri dan jiwa yang melanda.
Beliau laksana angin yang memberi kesejukan disaat diri ini mulai lelah.
Beliau laksana nasi yang bisa mengenyangkan dan bisa menjadi sumber energi dalam menjalani aktivitas kehidupan.
Beliau laksana pulsa yang tanpa keberadaannya menjadikan handphone menjadi sia-sia.
Beliau laksana sinyal yang keberadaannya banyak dibutuhkan oleh banyak orang.
Beliau laksana bumi dimana banyak orang mampu berdiri karena keberadaannya.
Beliau laksana bunga yang senantiasa menjadi simbol kebahagiaan.
Beliau laksana obat yang senantiasa memberikan kesehatan bagi mereka yang sedang sakit.
Beliau laksana pakaian yang mampu menjadikan tampilan hidup kita lebih rapi.
Beliau laksana nyawa yang tanpa keberadaannya pasti tidak akan ada kehidupan di dunia ini.
Terlalu banyak untuk mengungkapkan dan menilai diri beliau, sehingga otak ini tidak mampu untuk merangkainya.
Semoga ayahanda senantiasa dipelihara kesehatan jasmani dan ruhaninya, dimudahkan setiap urusannya, dijadikan ilmunya menjadi ilmu yang bermanfaat di dunia dan akhirat.
Semoga beliau dapat menjadi tauladan bagi kita semua sebagai generasi perjuangan Nahdlatul Wathan di mana saja kita berada.
“Janganlah Nanda Lupa Daratan, Lantaran Kursi dan Jabatan, Kursi Ananda Diberikan Tuhan, Lantaran Jasa Nahdlatul Wathan”.

Supriyatna
Kp. Cibolang Rt 02/06 Desa Banjarwangi Kec. Ciawi Kab. Bogor Jawa Barat

EMPAT GOLONGAN MANUSIA

Para pembaca yang dirahmati Allah SWT. Ada empat golongan manusia di dunia. Mari kita baca, pelajari, dan cermati serta nilai diri kita masing-masing termasuk ke dalam golongan yang manakah diri kita yang hina ini.
PERTAMA, Golongan manusia yang bahagia di dunia akan tetapi menderita di akhirat. Ciri utama golongan ini adalah mereka yang senantiasa terlalu mementingkan urusan dunia sehingga mereka lalai bahkan lupa dengan urusan akhirat. Terkadang mereka yang termasuk golongan pertama ini adalah mereka yang senantiasa menghalalkan segala cara demi mewujudkan kebahagiaan hidupnya di dunia tanpa berpikir akan pertanggungjawabannya kelak di alam akhirat. Bahkan, tidak sedikit dari golongan ini menjadikan harta bendanya sebagai Tuhan yang mereka agung-agungkan sebagai bentuk kekuatan dan kemampuan yang dimiliki.
KEDUA, Golongan manusia yang menderita di dunia akan tetapi bahagia di akhirat. Ciri utama golongan ini adalah mereka yang tidak mementingkan urusan dunia bahkan melalaikan urusan dunia akan tetapi mereka senantiasa patuh akan segala perintahNya dan menjauhi bahkan meninggalkan laranganNya dalam bentuk perwujudan melaksanakan amalan-amalan ibadah yang diperintah oleh TuhanNya.
KETIGA, Golongan manusia yang bahagia di dunia dan bahagia di akhirat. Inilah golongan yang sangat diinginkan banyak orang (mungkin termasuk sahabat pembaca yang saat ini sedang asyik membaca). Ciri utama dari golongan ini adalah mereka yang senantiasa selalu berusaha/ikhtiar dalam mewujudkan keinginannya di dunia dengan melaksanakan segala tugas dan kewajibannya namun mereka tidak pernah meninggalkan kewajibannya dalam melaksanakan perintahNya dan menjauhi bahkan meningglkan laranganNya yang diwujudkan dalam bentuk amalan ibadah kepadaNya sebagai bentuk pengabdian dan kewajiban yang harus dilakukannya. Meskipun golongan ini adalah golongan yang paling banyak diminati, namun hanya sedikit orang yang benar-benar istiqamah dalam menjalankannya. Karena masih banyak diantara kita yang cenderung lebih sering melaksanakan laranganNya daripada perintahNya.
KEEMPAT, Golongan manusia yang menderita di dunia dan menderita di akhirat. Inilah seburuk-buruknya golongan manusia. Golongan ini adalah mereka yang tidak mau berusaha di dunia dan diperburuk dengan tidak ada keinginan pula dalam melaksanakan ibadah kepadaNya. Na’uudzubillaahi min dzaalik.
Pada dasarnya Allah SWT tidak menciptakan manusia yang BODOH melainkan mereka orang-orang yang MALAS.
Semoga kita semua termasuk ke dalam golongan orang-orang yang diberkahi dan diridhoi oleh Allah SWT dalam setiap langkah perjalanan hidup kita di dunia yang semakin fana ini.
Wallahul Muaffiqu Wal Hadi Ilaa Sabilirrasyad

Supriyatna Asy-Syianjury

Maaf Itu Harus Dibuktikan Dengan Perbuatan

Sahabat pembaca yang berbahagia,
Sebelumnya Saya mengucapkan “Selamat Hari Raya ‘Idul Fitri 1 Syawal 1437 H. Taqobbalallohu Minnaa Wa Minkum Shiyaamanaa Wa Shiyaamakum Taqobbal Yaa Kariim Kullu ‘Aam Wa Antum Bikhoir”.
Hari Raya ‘Idul Fitri lebih dikenal dengan hari bermaaf-maafan menjadi sebuah tradisi yang mengajarkan seseorang untuk saling meminta dan memberi maaf atas setiap kesalahan yang pernah diperbuat oleh seseorang terhadap orangtua, keluarga, saudara, tetangga, sahabat, dan lain sebagainya.
Hari Raya ‘Idul Fitri menjadi hari kemenangan bagi ummat islam di mana saja berada yang berhasil menghadapi berbagai ujian dan cobaan saat menjalani pelaksaan rangkaian ibadah baik wajib maupun sunnah di bulan suci ramadhan.
Sementara mereka yang menyerah dengan sengaja (membatalkan puasa tanpa ada alasan yang diperbolehkan), maka baginya TIDAK ADA kemenangan di hari Raya ‘Idul Fitri melainkan hanya sebatas kesenangan semata yang tidak bermakna. Sehingga amalan ibadah puasa di bulan suci ramadhan terasa SAMA SAJA atau bahkan tidak merasa ada yang berubah bagi kepribadian seseorang setelah menjalani ibadah puasa selama 1 bulan.
Tradisi saling meminta dan memberi maaf menjadi hal penting dalam meramaikan peringatan 1 Syawal atau yang sering disebut Lebaran.
Akan tetapi perlu diingat bahwa “Maaf itu tidak hanya disampaikan melalui ucapan, tetapi harus juga dibuktikan dengan Perbuatan”.
Mudah-mudahan Allah SWT menerima amal ibadah puasa kita di bulan suci ramadhan, memberikan kesempatan untuk berjumpa kembali dengan ramadhan-ramadhan yang akan datang, serta menjadikan kepribadian diri kita untuk menjadi makhluk-makhluk yang lebih baik, baik dalam menjalankan tugas kita sebagai makhluk sosial terlebih lagi dalam melaksanakan ibadah kita kepadaNya.

Wallohul Muaffiqu Wal Hadi Ila Sabilirrasyad

Supriyatna

1 Bulan Masa Pelatihan, 11 Bulan Masa Pertanggungjawaban

Yakin akan bertemu kembali dengan Ramadhan tahun depan???
Kalau tidak yakin, jangan pernah menyesal karena ramadhan tahun ini akan meninggalkan kita hanya dalam hitungan jam.
Hikmah ramadhan tidak hanya dilihat sebelum dan ketika pelaksanaannya saja. Melainkan setelah ramadhan itu akan menjadi tolak ukur keberhasilan seseorang dalam menjalani rangkaian ibadah selama bulan suci ramadhan.
1 bulan itu adalah masa pelatihan, melatih dari hawa nafsu dengan menjaga pandangan, pendengaran, ucapan, perbuatan, dan lainnya.
11 bulan lainnya itu adalah bentuk pengamalan yang sesungguhnya dalam meraih kebahagiaan di hari kemenangan.
Jangan pernah menganggap diri sebagai pemenang jika puasa ramadhan kalian abaikan.
Mudah-mudahan Allah SWT masih memberikan kesempatan untuk dapat berjumpa dan menjalani amalan ibadah di bulan suci ramadhan di tahun-tahun yang akan datang.
Mohon Maaf Lahir dan Batin.

Supriyatna & Keluarga

Bacaan Niat Mengeluarkan dan Menerima Zakat Fitrah

Bismillahirrohmaanirrohiim…

Sahabat pembaca di mana saja berada, mudah-mudahan Allah SWt senantiasa memberikan kesehatan dan kemudahan dalam setiap urusan kita.

Alhamdulillah hari ini kita berada di pertengahan hari dari hari-hari di bulan suci ramadhan.

Bulan ramadhan adalah bulan yang di dalamnya terdapat banyak sekali kenikmatan dan keberkahan yang tidak ternilai pahalanya apabila dibandingkan dengan amalan-amalan ibadah di bulan-bulan lainnya.

Amalan di bulan ramadhan tidak hanya sekedar menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan atau megurangi nilai pahala dari ibadah puasa kita, melainkan banyak sekali amalan ibadah yang bersifat wajib maupun sunnah yang terdapat di dalamnya namun tidak ada di bulan-bulan lainnya. Diantara yang sunnah ialah shalat tarawih tidak ada di bulan lain kecuali di bulan ramadhan, berbuka puasa, makan sahur, dan lain sebagainya. Adapun yang wajib di antaranya mengerjakan ibadah puasa ramadhan itu sendiri, membayar zakat, hanya ada di bulan ramadhan dan tidak terdapat di bulan-bulann lainnya.

Oleh karena itu, mari kita jadikan bulan ramadhan ini sebagai bulan untuk kita berlomba-lomba dalam melakukan kebaikan. Kebaikan untuk meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah SWT dan juga kebaikan untuk sesama kita sebagai hamba-hambaNya.

Zakat Fitrah menjadi sebuah kewajiban yang dikeluarkan oleh seorang muslim sebagai bentuk ketaatan kita atas perintahNya serta menjadikannya sebagai bentuk penyucian atas diri kita setelah melakukan amalan ibadah puasa di bulan yang sangat mulia dengan memberikannya kepada orang-orang yang berhak menerimanya.

Namun perlu diketahui oleh sahabat pembaca di mana saja berada, ada tata cara dalam memberikan dan menerimanya, salah satunya adalah dengan berniat mengeluakan zakat fitrah seta menerimanya dengan baik dan benar.

Berikut adalah bacaan niat untuk mengeluarkan dan menerima zakat fitrah.

Bacaan Niat Untuk Diri Sendiri

Niat Zakat Sendiri

Bacaan Niat Zakat untuk Istri

Niat Zakat Untuk Istri

Bacaan Niat Zakat untuk Anak Laki-Laki

Niat Zakat untuk Anak Laki-Laki

Bacaan Niat untuk Anak Perempuan

Niat Zakat Untuk Anak Perempuan

Bacaan Niat untuk Seluruh  Keluarga

Niat Zakat Semua Keluarga

Bacaan Do’a Menerima Zakat

Do'a menerima Zakat Fitrah

Demikianlah teks bacaan niat mengeluarkan dan menerima zakat, semoga bermanfaat.

Catatan:

Apabila dirasa sulit, boleh menggunakan bacaan sesuai bahasa masing-masing yang lebih mudah dipahami dan dimengerti oleh sesama, baik yang mengeluarkan ataupun yang menerima zakat itu sendiri.

Hanya kepada Allah SWT kita memohon pertolongan dan hanya kepadaNya pula kita semua akan kembali.

Wallahul Muaffiqu Wal Hadi Ila Sabilirrasyad

Inspirasi Hidup Menuju Kematian

Alhamdulillah…
Rasa syukur yang tidak terhingga untuk selalu kita panjatkan atas segala nikmat dan karunia yang telah SWT limpahkan kepada kita semua, sehingga Allah SWT masih memberikan kesempatan untuk meluangkan waktu untuk membaca sedikit pelajaran yang mudah-mudahan bisa diambil manfaat dan hikmahnya.
Sahabat pembaca, berbicara kehidupan sepertinya tidak akan terlepas dari kematian. Akan tetapi, banyak orang yang lupa diri bahwa setelah kehidupan di dunia ini masih ada tahapan kehidupan yang harus kita lalui.
Berbicara kematian, Allah SWT menggunakan sebuah sistem yang sangat luar bisa yang sangat adil dalam Maha KebesaranNya.
Sahabat pembaca, mati itu “sistem cabut acak” bukan sistem “urut berdasar usia, agama, suku, bangsa, atau yang lainnya”.
Allah SWT tidak mematikan hambaNya berdasarkan tua muda, miskin kaya, sehat sakit, baik buruk, atau bahkan urutan nama.
Siapapun yang Allah SWT kehendaki untuk berjumpa denganNya, maka niscaya tidak ada satupun yang mampu menghalangiNya.
Setiap manusia akan mengalami hal yang sama. Namun, kesadaran akan hal itu masih jauh dari kata baik menurut pandangan ajaran agama.
Oleh karena itu, kematian menjadi sebuah rahasia yang di dalamnya terdapat banyak rahasia-rahasia sebagai bentuk dan bukti akan kekuasaan dan kebesaran dalam mengatur makhluk-makhlukNya terutama manusia.
Sudah cukupkah amal ibadah kita?
Sudah cukupkan amalan shalat kita?
Sudah cukupkan kebaikan-kebaiakan kita?
Semoga Allah SWT senantiasa memberikan ampunan terhadap dosa-dosa kita.
Dosa terhadap ibu bapak kita.
Dosa terhadap keluarga kita.
Dosa terhadap tetangga kita.
Dosa terhadap guru-guru kita.
Dosa terhadap murid-murid kita.
Dosa terhadap sesama kita.
Dan dosa terhadap siapapun yang pernah kita berbuat dosa kepadanya.
Wallahul Muaffiqu Wal Hadi Ila Sabilirrasyad.

Kebodohan Yang Terjadi Di Akhir Zaman

Alhamdulillah…
Sahabat pembaca yang baik hati, Islam adalah agama terakhir, Nabi Muhammad SAW adalah nabi terakhir, Al-Qur’an adalah kitab terakhir untuk umat manusia.
Mati dan Kiamat adalah sebuah kepastian yang akan dirasakan oleh seluruh makhluk (nyata-goib) di mana seluruh amal perbuatan akan dimintai pertanggungjawabannya.
Akan tetapi, melihat perkembangan manusia dengan segala kecanggihan teknologi yang ada menjadikan tidak sedikit di antara kita sebagai manusia justru terlena dan terlalu asyik dengan keberadaannya sehingga kita lupa akan tugas dan kewajiban kita untuk senantiasa beribadah, berusaha, berdo’a sebagai bentuk penghambaan kita kepadaNya. Atau mungkin ini yang dimaksud sebagai tanda-tanda nyata akhir zaman yang salah satunya adalah “banyak orang yang membodoh-bodohi orang lain, sementara ia tidak menyadari bahwa perbuatan yang ia lakukan lebih bodoh daripada cara ia membodohi orang lain”.
Menyikapi hal tersebut, banyak orang di sekitar yang terlalu manis untuk dilupakan (kata Slank). Hehehe…
Sungguh perbuatan kita itu tergantung pada niat yang muncul dalam diri kita masing-masing. Apabila niat itu baik maka kebaikan pula yang akan kita dapatkan. Apabila niatnya buruk, cepat atau lambat Allah SWT akan menjawab dan menepati janjinya “Famay ya’mal mistqoola dzarrotin khoiroyyaroh wa mayya’mal mistqoola dzarotin syarroyyaroh. Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya (kebaikan). Maka barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya dia akan melihat balasannya (kejelekan). (Q.S. Al-Zalzalah: 7-8”.
Semoga Allah SWT senantiasa memasukan kita semua ke dalam golongan orang-orang yang pandai bersyukur dan bersabar serta lebih sehat dan bijak dalam melakukan tugas dan tanggungjawab kita baik kepada sesama manusia terlibih lagi terhadap Allah SWT.
Ingat, Allah SWT Maha Mengetahui atas apa yang kita lakukan.

Kebodohan Yang Terjadi Di Akhir Zaman

Alhamdulillah…
Sahabat pembaca yang baik hati, Islam adalah agama terakhir, Nabi Muhammad SAW adalah nabi terakhir, Al-Qur’an adalah kitab terakhir untuk umat manusia.
Mati dan Kiamat adalah sebuah kepastian yang akan dirasakan oleh seluruh makhluk (nyata-goib) di mana seluruh amal perbuatan akan dimintai pertanggungjawabannya.
Akan tetapi, melihat perkembangan manusia dengan segala kecanggihan teknologi yang ada menjadikan tidak sedikit di antara kita sebagai manusia justru terlena dan terlalu asyik dengan keberadaannya sehingga kita lupa akan tugas dan kewajiban kita untuk senantiasa beribadah, berusaha, berdo’a sebagai bentuk penghambaan kita kepadaNya. Atau mungkin ini yang dimaksud sebagai tanda-tanda nyata akhir zaman yang salah satunya adalah “banyak orang yang membodoh-bodohi orang lain, sementara ia tidak menyadari bahwa perbuatan yang ia lakukan lebih bodoh daripada cara ia membodohi orang lain”.
Menyikapi hal tersebut, banyak orang di sekitar yang terlalu manis untuk dilupakan (kata Slank). Hehehe…
Sungguh perbuatan kita itu tergantung pada niat yang muncul dalam diri kita masing-masing. Apabila niat itu baik maka kebaikan pula yang akan kita dapatkan. Apabila niatnya buruk, cepat atau lambat Allah SWT akan menjawab dan menepati janjinya “Famay ya’mal mistqoola dzarrotin khoiroyyaroh wa mayya’mal mistqoola dzarotin syarroyyaroh. Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya (kebaikan). Maka barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya dia akan melihat balasannya (kejelekan). (Q.S. Al-Zalzalah: 7-8”.
Semoga Allah SWT senantiasa memasukan kita semua ke dalam golongan orang-orang yang pandai bersyukur dan bersabar serta lebih sehat dan bijak dalam melakukan tugas dan tanggungjawab kita baik kepada sesama manusia terlibih lagi terhadap Allah SWT.
Ingat, Allah SWT Maha Mengetahui atas apa yang kita lakukan.